Minuman Berenergi: Minum dengan Bijak


Beberapa tahun terakhir ini minuman berenergi menjadi semakin populer. Banyak orang menyukainya karena dapat menahan kantuk. Mereka yang harus mengemudi jauh ke luar kota, atau yang harus bekerja larut malam seringkali membawa minuman energi. Bahkan yang bekerja siang hari juga membawa minuman ini, khususnya yang kurang tidur di malam sebelumnya. Tidak saja di antara pekerja, minuman ini juga populer di kalangan anak SMU dan mahasiswa karena mereka merasa membutuhkannya untuk mengatasi kantuk selagi belajar.

Apa sebetulnya minuman energi?

Minuman yang juga disebut energy drink ataupower drink ini pada dasarnya memiliki bahan utama kafein yang juga terdapat pada kopi. Tapi konsentrasi kafein pada minuman energi jauh lebih kuat. Nah, apa jadinya jika minuman ini dikonsumsi tanpa diperhatikan dosisnya? Apa saja efek sampingnya?

Logan Stiner, seorang murid SMU di Ohio, Amerika Serikat, memiliki masa depan yang cemerlang. Tahun lalu, pemuda yang baru berusia 18 ini sudah siap untuk masuk Universitas Toledo. Namun tiga hari sebelum lulus, Logan ditemukan tergeletak tak bernyawa di lantai rumahnya. Ada bubuk putih di dekatnya. Bukan heroin atau narkoba lainnya, melainkan serbuk yang dijual secara legal, bubuk konsentrasi kafein. Menurut ahli forensik, di dalam darah Logan ditemukan kandungan kafein 18 kali lebih tinggi daripada peminum kopi. Sebelum meninggal, dia mengalami debar jantung yang tidak normal yang menyebabkannya kejang-kejang dan akhirnya meninggal.

Michael Lee Bedford, seorang pemuda Inggris yang baru berusia 23 tahun meninggal sesudah menelan dua sendok makan bubuk kafein dengan sekaleng minuman energi. Gabungan keduanya membuat tubuhnya seperti dibanjiri kurang lebih 70 kaleng minuman energi sekaligus. Menurut American Association of Poison Control Center, sedikitnya enam kasus berbahaya yang melibatkan bubuk kafein terjadi dalam satu tahun.

Gabrielle, remaja putri berusia 19, mulai minum pil kafein ketika masuk perguruan tinggi. “Saya selalu tertekan oleh banyaknya tugas setiap hari. Saya mulai suka minum kopi, tetapi lama-lama kopi terasa tidak membantu lagi. Pil kafein terasa lebih manjur dalam dua minggu, tetapi saya harus minum tiga pil 4 kali sehari supaya bisa befungsi,” tuturnya. Kandungan kafein dari pil yang diminum Gabrielle sama banyaknya dengan 24 cangkir kopi. Akibatnya, dia sering sakit kepala dan mudah cemas. Kini, dia berhenti minum pil dan sekarang merasa lebih sehat serta tidak mudah mengantuk.

Menurut Dr. Barbara Crouch, direktur Utah Poison Control Center, “Kafein adalah obat, tapi terlalu banyak bisa menjadi racun. Bila Anda minum kopi, Anda menyerap dan mencerna kafein perlahan-lahan. Tetapi bila Anda minum minuman energi tubuh menyerapnya dengan cepat sehingga akhirnya darah Anda memiliki kandungan konsentrasi kafein yang tinggi.”

Maka dari itu, seberat apa pun pekerjaan Anda, sebaiknya Anda menghindari konsumsi minuman energi. Lebih baik beristirahat sebentar lalu melanjutkan kembali pekerjaan, ketimbang menenggak minuman berenergi tanpa dosis yang tepat karena dapat berakibat buruk bagi kesehatan tubuh.

Sumber: http://keluarga.com/kesehatan/waspada-minuman-berenergi

Advertisements